Sejarah

Desa Karangkemiri awalnya adalah sebuah pemukiman yang dihuni sekitar 40 KK, pemukiman tersebut terbagi dalam dua kelompok/grumbul yaitu Grumbul Julang Mangu dan Karanggedang. Suatu saat berkumpul tiga tokoh yaitu Mbah Jambu Duwur, Mbah Singarudin dan putranya yaitu Mbah Saridin, selain  tiga orang tersebut ada juga Bono Keling/Rangsapati (Pekuncen), Mbah Kali Koyong (Pengadegan) dan Mbah Adeg Soka (Pengadegan). Pada saat berkumpul salah satu orang dari enam orang tersebut kejatuhan buah langsung di makan yang rasa enak ternyata buah tersebut bernama buah kemiri akhirnya ke enam orang tersebut menamai pemukiman  yang tadinya bernama Grumbul Julang Mangu dan Karanggedang menjadi Karangkemiri. Sejak itu Karangkemiri dipimpin oleh seorang kepala desa

Adapun Kepala Desa  yang pernah menjabat :

  1. Kepala Desa I : Trunajaya

Pada masa Pemerintahan beliau membuat batas desa.

  1. Kepala Desa II : Ranasemita

Pada masa Pemerintahannya perkampungan mulai diperluas dengan membabat hutan dan sebagian lagi untuk dijadikan lahan pertanian.

  1. Kepala Desa III : Trawirana

Perkampungan penduduk merambah ke arah timur yang kemudian perkampungan tersebut dinamai Grumbul/Dusun Tembelang. Pemerintahan Trawirana berakhir sampai tahun 1921.

  1. Kepala Desa IV : Ketamenawi (1921-1945)

Pada masa ini tidak ada peristiwa penting yang menonjol karena masa perang dunia.

  1. Kepala Desa V : Jaya Sentika (1945-1970)

Pada jaman Pemerintahan ini kondisi sangat kacau karena pada masa ini ada perang dengan Belanda, pemberontakan DI/TII dan pemberontakan                        G 30 S/PKI. Meskipun demikian sekolah sudah mulai dibangun yaitu               SD Karangkemiri yang kemudian sekarang bernama SDN Karangkemiri 01.

  1. Kepala Desa VI : Wirya Sengaja (1970-1989)

Pada masa Pemerintahan ini infrastruktur mulai dibangun yaitu jalan yang menghubungan dengan desa tetangga yang sekarang menjadi jalan kabupaten yaitu Jl. Jambusari – Karangkemiri, dibangun juga jalan penghubung antar wilayah dusun. Tempat ibadah juga mulai dibangun yaitu Masjid Jami Nurul Iman, membangun SD Inpres yang sekarang dinamai SDN Karangkemiri 02, membangun kantor/balai desa yang mana material bangunannya harus dilangsir dari desa tetangga dengan dipikul oleh warga.

Semenjak dibangunnya Jl.Jambusari – Karangkemiri bahkan sampai dengan pengerasan/makadam potensi sumberdaya desa berupa batu bisa dijual keluar wilayah desa. Gerakan penghijauan lahan dengan juga mulai dilaksanakan yaitu dengan penanaman lahan yang tidak produktif karena dibiarkan tidak digarap oleh pemiliknya. Rencana Pembangunan Desa mulai disusun dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam bentuk lembaga desa. Jaringan listrik mulai dibuat dalam pemerintahan ini juga.

  1. Kepala Desa VII : Sarkim (1989-1997)

Pada masa Pemerintahan ini Grumbul Karangkemiri yang meliputi wilayah Karangkemiri dan Situ di pecah menjadi Dusun Karangkemiri dengan kepala dusun sendiri dan Dusun Situ dengan kepala dusun sendiri. Grumbul Tembelang dipecah juga menjadi dua dusun yaitu Dusun Tembelang dan Dusun Karangaglik. Pembangunan infrastrukturnya yang menonjol adalah pembangunan jalan yang dilaksanakan pada kegiatan AMD Tahun 1993 yang sekarang bernama Jl.Penatusan. Dimulainya pemasangan dastang listrik di rumah – rumah warga. Di sektor perkebunan ada penanaman kakao(kopi coklat) dan juga salak pondoh.

  1. Kepala Desa VIII           : Kilam Harjo Sumarto (1998-2007)

Pada masa Pemerintahannya gedung kantor desa diperluas dengan penambahan ruang kantor, pembangunan Gedung PKD dan listrik yang pemasangan jaringannya pada masa Kepala Desa Wirya Sengaja dan pemasangan dastangnya pada masa Kepala Desa Sarkim juga mulai menyala dan dinikmati warga. Pembangunan infrastruktur yang lainnya merupakan rehab ataupun peningkatan jalan yang sudah ada sebelumnya.

  1. Kepala Desa IX           : Kuswadi (2007 – Sekarang)

Kepala Desa Kuswadi menjabat selama tiga periode. Pembangunan baik infrastruktur maupun bidang lainnya cukup pesat di antaranya adalah Pembangunan Hotmik Jl. Jambusari – Karangkemiri dan sekarang sebagian sudah di ganti menjadi rigit, peningkatan jalan – jalan desa dan gang baik pengaspalan maupun rabat beton, pembangunan pedopo desa, pembangunan drainase dan talud pelengkap sarana prasarana jalan, pembangunan rumah sehat melalui program Bantuan Stimulan Perumahan swadaya (BSPS) maupun Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pembangunan Pasar Desa, mendirikan BUMDes, penerangan jalan, pengangkatan perangkat desa dan unsur staf, tempat ibadah, PAUD, Posyandu, pengadaan sarana prasarana penunjang PKD, Posbindu, dan masih banyak kegiatan lainnya.